Ritual Adat Dalumatehu Sembanua di Sangihe Buat Merinding: Rintihan Kalbu Warga demi Jaga Ruang Hidup

manasosiana.com, Sangihe — Bau ramuan herbal yang terbakar perlahan menyeruak di pelataran Rumah Resort GMIST Nagha I, Kecamatan Tamako, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Jumat siang, 25 Juni 2026. Di bawah naungan pepohonan rindang, ratusan warga, tetua adat, hingga wisatawan mancanegara berdiri terpaku menyaksikan kepulan asap tipis membubung ke langit.

​Suasana hening itu menandai berlangsungnya Ritual Adat Dalumatehu Das Dalumatehu Sembanua (RADS). Tradisi tahunan yang kini memasuki edisi keempat tersebut bukan semata pentas seni budaya yang ditutup rancaknya tari Ampa Wayer oleh siswa SMA Negeri 1 Tamako. Lebih dari itu, ritual ini membawa pesan ekologis, Sangihe Ikakendage, jeritan dari pulau kecil yang terus berjuang mempertahankan ruang hidupnya dari ancaman perusakan lingkungan dan krisis iklim.

​Rintihan Kalbu Menghadapi Anomali Alam
​Bagi masyarakat adat Sangihe, Dalumatehu Sembanua merupakan bentuk artikulasi emosional atas ketidakseimbangan kosmis. Tetua Adat Sangihe, Niklas Mahare, menuturkan tradisi ini lahir dari respons komunitas lokal terhadap anomali cuaca dan bencana berkepanjangan, mulai dari kekeringan ekstrem hingga wabah penyakit.

​Menurut Niklas, kalkulasi iklim tradisional yang diwariskan leluhur kini kian rentan meleset akibat cuaca modern yang tak lagi menentu.

“Dalumatehu ini adalah rintihan kalbu. Representasi perasaan warga ketika menghadapi cobaan hidup, termasuk pergeseran musim yang tak pasti,” ujar Niklas di sela prosesi.

​Rangkaian ritual dilanjutkan dengan prosesi Metipu, yakni pembakaran ramuan tertentu guna memicu kepulan asap pekat. Lewat asap tersebut, doa dipanjatkan kepada Genggona Ruata, Sang Penguasa Semesta, sebagai permohonan agar hujan diturunkan dan harmoni alam kembali pulih.

​Keterbatasan Ekologis Pulau Kecil
​Isu kedaulatan lingkungan menjadi substansi utama gelaran RADS tahun ini. Jul Takaliuang dari Komunitas Mebuntuang Mendiaga Nusa (Bersama Menjaga Pulau) menegaskan, ritual adat adalah benteng kultural paling autentik untuk merevitalisasi kearifan lokal dalam menjaga ekosistem.

​”Ritual ini mengikat kembali kesadaran kolektif: tanah ini diwariskan leluhur untuk dijaga dan dikelola secara berkelanjutan, bukan untuk dieksploitasi,” katanya.

​Jul merujuk pada pedoman hidup kultural Sangihe seperti mětatěngka, matelleng, matelling, matelang, hingga matilang, falsafah kejernihan bernalar sebelum menentukan tindakan. Prinsip ini mendesak diterapkan mengingat Sangihe menyandang kerentanan ekologis khas pulau-pulau kecil.

​”Jika pulau ini rusak atau hancur oleh bencana, kita tidak memiliki pulau cadangan untuk mengungsi. Orang Sangihe hanya punya jengkal tanah ini,” ujarnya.

​Ia mendesak Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe bersikap tegas membatasi ekspansi industri ekstraktif serta proyek pembangunan yang destruktif. Gerakan pertahanan ruang hidup ini berakar dari inisiatif Save Sangihe Island, yang kini berkembang menjadi aksi lintas generasi yang memadukan anak muda dan pemangku adat.

​Resonansi Budaya bagi Pelancong
​Gaung RADS turut menyita rasa penasaran turis asing. Louis, wisatawan asal Jerman, mengaku terkesan dengan muatan spiritual dan kehangatan sosial sepanjang prosesi.

​”Energinya luar biasa dan orang-orangnya menyambut hangat. Mengikuti prosesi ini memberi perspektif baru setelah menjelajahi hutan dan lanskap alam Sangihe,” kata Louis.

​Prosesi resmi ditutup oleh Ketua Dewan Adat Sangihe Riedel Sipir bersama Niklas Mahare dan Ahusta Antarani. Kendati asap Metipu telah lama buyar disapu angin pesisir Tamako, substansi ritual ini tetap melekat di pulau kecil seperti Sangihe, merawat lingkungan bukan sekadar opsi moral, melainkan prasyarat mutlak untuk bertahan hidup.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *