manadosiana.com, MANADO – Kebahagiaan menyelimuti kepulangan jemaah haji asal Sulawesi Utara (Sulut) yang tergabung dalam Kloter 5 Balikpapan. Namun, di balik kelancaran ibadah tahun ini, tersimpan perjuangan berat melawan cuaca panas ekstrem di Arab Saudi yang mencapai hampir 50 derajat Celsius.
Ketua Kafilah Jemaah Haji Sulawesi Utara Kloter 5, Amir Liputo, mengungkapkan bahwa faktor cuaca menjadi ujian paling berat bagi para jemaah, khususnya mereka yang sudah berusia lanjut (lansia).
“Dalam suasana suhu yang sangat panas seperti itu, jemaah haji lansia berisiko mengalami disorientasi bahkan kehilangan ingatan sesaat. Itu menjadi tantangan paling berat yang kami hadapi selama di Tanah Suci,” ujar Amir di Bandara Sam Ratulangi, Manado, Minggu (14/6/2026).
Menurut Amir, suhu udara di sejumlah wilayah suci terus meroket di kisaran 44 hingga 47 derajat Celsius selama musim haji 1447 H / 2026 M. Bahkan pada momen-momen tertentu, sengatan panas menembus angka yang mengkhawatirkan.
Selain faktor alam, Amir menyoroti kendala kesiapan fisik jemaah. Banyak di antaranya yang belum sepenuhnya mampu menyesuaikan ritme stamina dengan padatnya rangkaian ibadah. Mengingat ibadah haji sangat mengandalkan kekuatan fisik, manajemen energi menjadi kunci penting.
Meski diwarnai tantangan berat dan kabar duka atas wafatnya satu orang jemaah, Amir bersyukur mayoritas rombongan bisa menyelesaikan seluruh rukun Islam kelima dengan selamat dan kembali ke tanah air dengan sehat.
