Pendeta Gereja Aceh Singkil Mengaku Jemaat Masih Trauma

Manadosiana.com, NAD – Pendeta Gereja Huria Kristen Indonesia (HKI) Gunung Meria Erde Brutu mengaku dirinya dan jemaat masih mengalami trauma atas aksi pembakaran gereja yang dilakukan oleh sekelompok warga di Desa Suka Makmur, Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh, Selasa (13/10) kemarin.

“Saya dan jemaat masih trauma,” kata Pendeta Erde saat dihubungi CNN Indonesia, Rabu (14/10).

Diungkapkannya, sekitar 7.500 warga Aceh Singkil telah mengungsi ke Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara. Sebanyak 5 ribu orang mengungsi ke Desa Saragih, Kecamatan Manduamas, sedangkan sekitar 2.500 orang sisanya mengungsi di Kecamatan Pagindar.

“Pengungsi ada yang tinggal di balai pertemuan, gereja, di daerah yang mayoritas warganya non-muslim. Sebagian besar pengungsi tinggal di rumah ibadah,” ujarnya.

Para pengungsi saat ini memanfaatkan fasilitas seadanya dari tempat pengungsian dan mendapatkan bantuan minim berupa selimut dan makanan dari warga sekitar.

Sebagai informasi, insiden kerusuhan di Aceh Singkil dipicu oleh sekelompok orang bersenjata tajam yang mendatangi salah satu gereja di Desa Suka Makmur dan membakarnya.

Selain itu, Pendeta Erde mengaku tidak mendapatkan undangan pertemuan antara pemerintah daerah, kepolisian dan pemuka agama untuk membahas tindak lanjut insiden kerusuhan itu.

“Saya hanya mendapatkan informasi dari jemaat saya bahwa ada pertemuan antara Kapolri, Kapolda, Gubernur, dan pemuka agama pagi ini di Kantor Polres (Aceh Singkil),” ujarnya.

Menurut Erde, pertemuan itu hanya semacam seremoni menyambut Kapolri dan pejabat terkait. Setahu dia, tidak ada perwakilan dari umat Nasrani yang menghadiri pertemuan itu.

“Mungkin nanti yang akan mewakili pimpinan saya karena ini sudah dianggap sebagai insiden nasional,” ujarnya.

(cnn/23)

Share This Post