Prinsip Tabayyun yang Kini Dilupakan Media dan Umat (Mengaku) Islam

SEJAK pemilihan presiden tahun 2014 lalu, banyak sekali bermunculan media-media baru. Sayangnya, media-media baru yang muncul ini justru lebih banyak yang menyebarkan berita-berita bohong atau saat ini dikenal dengan istilah hoax.

Media-media ini menulis berita dengan narasumber yang tidak jelas, sumber yang tidak valid serta banyak dengan tudingan dan fitnah yang tidak berdasarkan hasil klarifikasi atau fakta di lapangan. Bahkan, ada yang memuat berita berdasarkan lelucon media sosial yang ditulis untuk lucu-lucuan saja. Masih ingatkan soal Presiden Joko Widodo yang dituduh orang China dengan nama China yang ternyata didasarkan lelucon saja.

Sesudah masa pemilihan presiden berakhir, media-media penyebar berita hoax atau palsu terus berkembang. Parahnya, banyak masyarakat Indonesia yang baru mengenal dunia maya, kemudian lebih mempercayai media-media penyebar hoax ini dengan alasan, media-media yang kredibilitasnya baik merupakan media kepentingan karena dimiliki oleh pemodal, sehingga mereka lebih percaya berita-berita hoax tanpa dasar dibandingkan berita yang benar dan memiliki tingkat akurasi sebagai produk jurnalis yang tinggi.

Bahkan, beberapa orang diantara yang mempercayai media penyebar hoax adalah orang-orang yang berpendidikan. Mulai dari aktivis mahasiswa, hakim dan juga para aparatur sipil negara (ASN). Tak hanya percaya, mereka memposting atau membagikan kiriman berisi berita tanpa sumber jelas tersebut.

Yang menjadi ironi, justru berita-berita hoax atau tidak jelas sumbernya ini berasal dari media-media yang namanya bernafaskan islami. Orang-orang berpakaian agama Islam pun tampak jelas sebagai pengelola media yang menyebar berita tanpa konfirmasi dan juga sumber yang jelas.

Hal ini tentu sangat jauh dari prinsip Islami dan juga prinsip dari dunia jurnalis itu sendiri. Pasalnya, untuk menjadi jurnalis yang handal, justru prinsip islami yang harus dikedepankan. Apa itu?

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Surat Al Hujurat 49 ayat ke 6 yang berarti ‘Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian”

Ayat ini sendiri turun berkaitan dengan kasus al-Walîd bin ‘Uqbah bin Abî Mu’yth, yang menjadi utusan Rasul SAW. untuk memungut zakat dari Bani Musthaliq. Ketika Bani Musthaliq mendengar kedatangan utusan Rasul ini, mereka menyambutnya secara berduyun-duyun dengan sukacita.
Mendengar hal itu, al-Walîd, menduga bahwa mereka akan menyerangnya, mengingat pada zaman Jahiliah mereka saling bermusuhan. Di tengah perjalanan, al-Walîd kemudian kembali dan melapor kepada Nabi, bahwa Bani Musthaliq tidak bersedia membayar zakat, malah akan menyerangnya. Rasul saw. marah, dan siap mengirim pasukan kepada Bani Musthaliq. Tiba-tiba, datanglah utusan mereka seraya menjelaskan duduk persoalan yang sesungguhnya.

Di dunia Islam sendiri ada istilah Tabayyun. Tabayyun dalam artian bahasa memiliki artu mencari kejelasan sesuatu hingga jelas benar keadaannya. Sementara secara istilah, adalah  meneliti dan menyeleksi berita, tidak tergesa-gesa dalam memutuskan masalah hingga jelas benar permasalahannya. Para ulama yang sebenarnya menerapkan prinsip tabayyun ini.

Sementara, di dunia jurnalistik ada yang namanya kode etik jurnalis yang harus diterapkan. Dari 11 Kode Etik Wartawan, semuanya merujuk pada sifat Tabayyun dalam islam. Diantaranya, wartawan harus menghasilkan berita yang akurat, menempuh cara yang profesional, selalu menguji informasi dan tidak membuat berita bohong, fitnah sadis dan cabul.

Hal ini tentunya sangat jelas merujuk pada prinsip Tabayyun dalam islam. Sayangnya, justru sejumlah media dengan nama islami yang berisi hal-hal yang jauh dari prinsip islami yakni Tabayyun.

Dengan menyebar berita bohong penuh fitnah, media-media bernamakan islam ini terus mengirimkan kebohongan ke masyarakat muslim, yang ironisnya tanpa diperiksa kebenarannya, justru mempercayai berita bohon dan fitnah tersebut.

Selain media, banyak juga orang-orang Islam yang seperti lupa akan ayat Alquran dan Hadits Rasullulah terkait prinsip Tabayyun ini. Oknum saya sebut JonGin yang kini menjadi dewa para pemalsu berita dan penyebar fitnah di medsos. Berkali-kali menyebar berita palsu soal pemerintah, soal para ulama shahih dan ketahuan, tapi tak juga kunjung untuk berubah. Setiap hari tetap menyebar kebencian dan fitnah tanpa pernah melakukan tabayyun semua informasi yang dia sebarkan.

Kasus terakhir adalah akun facebook Eko Prasetia yang memposting foto para wartawan yang tengah beristirahat usai meliput sidang Ahok. Dilaporkannya akun tersebut karena dalam unggahan foto tersebut disebut jika para wartawan foto tersebut adalah Buzzer Ahok yang mirip seperti pelacur. Eko Prasetia yang (mengaku) umat yang membela Islam ini, tanpa Tabayyun menuding hal yang tidak benar dan disebarkan berita bohong tersebut ke dunia maya.

Saat ini pemerintah tengah menertibkan media penyebar hoax dan fitnah dengan melakukan pemblokiran situs penyebar hoax dan fitnah. Sayangnya, situs penyebar fitnah dan hoax tetap ada dengan merubah domain dan nama situs mereka untuk tetap menyebar fitnah dan hoax. Sungguh miris memang, karena umat (mengaku) islam seharusnya justru lebih mengutamakan Tabayyun dalam menyebar berita bukan mengutamakan kebencian.

Penulis: Icha Bucheri
Pegiat Nahdlatul Ulama (NU) Sulawesi Utara

Share This Post