Sehan Landjar: Pemilu 2019 Paling Menyakitkan dan Semrawut

Manadosiana.com, MANADO – Ketua Dewan Pimipinan Wilayah (DPW) Partai Amanat Nasional (Pan) Sulawesi Utara (Sulut), Sehan Landjar mengatakan, pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) serentak tahun 2019 paling menyakitkan.

“Kami anggap Pemilu kali ini adalah pemilu yang paling menyakitkan, paling tidak mendidik, baik pilpres maipun legislatif,” ujar Sehan Landjar kepada wartawan, Jumat (10/5/2019) siang.

Dia pun mengatakan, permasalah-permasalah yang terjadi akibat dari banyak orang suka jadi peyelenggara, bukan dia mempunyai ilmu pengetahuan, tetapi dia itu tidak punya moral banyak sekali.

“Kekacauan yang terjadi bukan karena kebodohan dan kelalaian rakyat, tapi penyelenggara yang suka bermain kayak wasit ikut bermain, hakim garis ikut bermain,” katanya.

Bahkan, ditegaskannya, Pemilu serentak tahun 2019 ini selain prosesnya yang memakan waktu lama, pelaksanaanya juga lebih semrawut.

“Sebenarnya kalau penyelenggara, ini kan buang uang begitu besar, konon katanya ada 28 triliunan rupiah, prosesnya memakan waktu yang begitu panjang, yang nikmati ini kan orang KPU dan Bawaslu tapi kemudian hasilnya menyakitkan, hasilnya tidak pernah berubah dari tahun ke tahun pelaksanaannya malahan lebih semrawut,” semburnya.

Untuk itu, pada Pemilu berikut, Ia meminta kepada pemerintah sudah harus memikirkan dengan sistim IT yang menurutnya tidak memakan waktu lama.

“Itu mungkin, tiga sampai empat hari pemilihan pokoknya rakyat, kalau dia ada waktu, dia datang dia pake sidik jari, dia pilih saja yang mana dia suka, datanya itu langsung terkirim ke KPU pusat. Tapi kalau dengan cara saat ini masih bertele-tele, masih mau dihitung di Kecamatan,” terangnya.

“Dari dulu saya sudah bilang kenapa begitu dari TPS, langsung aja ke KPU kabupaten, kase waktu satu bulan untuk lakukan rekapaitulasi di kabupaten, tidak usah singgah di kecamatan, disitu ruang tempat bermain, penguasa main disitu,” tuturnya.

Lebih lanjut, Sehan mengatakan Pemilu adalah keniscayaan, karena negara kita adalah negara menjunjung tinggi nilai demokrasi, memberikan kewenangan kepada masyarakat untuk memilih para pemimpin dan wakilnya, Ia pun berharap sistim pada pemilihan umum nanti yang harus dirubah karena pada Pemilu serentak 2019 sudah menelan ratusan peyelenggara meninggal dunia serta meminta kepada Pemerintah bahwa musibah ini menjadikan sebagai bencana Nasional .

“Karena pemilihan sekarang ini adalah pemilihan paling menyakitkan dan sangat memiriskan. Sudah 500 lebih meninggal dunia, yang jatuh di pesawat cuma 157 orang, presiden sampai klasa klusuk harus dua kali ke pelabuhan lihat dan buat keperihatinan. Tapi, sekarang ini, sudah 500 lebih tidak ada orang pada planga plongo semua para pejabat negara, ini kan tragedi, seharusnya ini bencana nasional,” pungkas Sehan.(eboy)

Share This Post

Post Comment